Popular Post

Popular Posts

Recent post

Showing posts with label Alam. Show all posts

http://langitselatan.com/2008/01/02/masa-depan-manusia-di-antariksa-star-trek-atau-kolonisasi/

Pada tahun 1968, tahun 2001 terasa masih sangat jauh. Pada tahun pembuka milenium ketiga ini bukan tak mungkin teknologi sudah sangat maju sehingga perjalanan antariksa sudah menjadi sangat umum. 

Gambaran kolonisasi di luar Bumi. kredit : ESA
Bulan sudah menjadi koloni kita dan penerbangan Bumi-Bulan berjalan beberapa kali dalam sehari, sebuah stasiun antariksa menjadi tempat transit untuk pindah pesawat, dan dalam waktu dekat sudah ada rencana untuk mengirim manusia ke Planet Jupiter. Sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu beberapa tahun namun sedang dilaksanakan. Gravitasi buatan diciptakan melalui roda yang berputar pada sumbunya dan sebagian besar awak ditidurkan dalam kamar hibernasi. Hanya dua awak yang bekerja selama perjalanan dengan dibantu oleh komputer super canggih yang memonitor keadaan pesawat.
Paling tidak demikianlah yang mereka bayangkan pada tahun 1968. Almarhum sutradara Stanley Kubrick dan rekannya Arthur C. Clarke—penulis fiksi ilmiah kenamaan yang bermukim di Sri Lanka—mengadaptasi cerita pendek Clarke sebelumnya, The Sentinel, dan melahirkan sebuah film berpengaruh, 2001: A Space Odyssey, yang tidak hanya sangat akurat dalam penggambarannya tentang antariksa, namun juga menggambarkan posisi manusia dalam penjelajahan antariksa. Permulaan milenium ketiga, 2001, bagi mereka adalah permulaan zaman antariksa (space age) yang sebenarnya saat manusia benar-benar menyadari posisinya dalam antariksa: seorang bayi dalam kandungan yang siap dilahirkan dan menjelajah dunia antariksa yang luas. Demikian berpengaruhnya film tersebut sampai orang menduga-duga apakah pada tahun 2001 nanti memang kemajuan teknologi sudah seperti yang digambarkan film tersebut.
Pandangan optimistis ini tak jua hilang saat Clarke menulis cerita pendek Transit of Earth yang mengambil waktu tahun 1984. Pada tahun itu terjadi transit Bumi dilihat dari Planet Mars (dilihat dari Mars, Bumi dapat dilihat bergerak melintasi Matahari) dan seorang astronot yang terdampar sempat menikmati pemandangan tersebut sebelum menghembuskan nafas terakhirnya karena kehabisan oksigen. Walaupun berakhir tragis, namun ada pesan tersurat yang disampaikan Clarke di sini: Pada tahun 1984, penjelajahan manusia di Planet Mars sudah dapat dilakukan.

Terbitnya Bumi di permukaan Bulan, dipotret pada tanggal 24 Desember 1968 oleh astronot-astronot Apollo 8. Sumber: Wikipedia
Penjelajahan antariksa! Pada tahun 1968, bolehlah Clarke bersama Kubrick, saat melahirkan 2001: A Space Odyssey, berpikir optimis karena ilmuwan dan insinyur yang dikontrak NASA sudah sepuluh tahun melakukan eksperimen dan mengirim manusia ke luar angkasa walaupun baru sebatas orbit Bumi. Pada hari natal tahun tersebut, 1968, astronot Apollo 8 berhasil menjadi orang-orang pertama yang meninggalkan orbit Bumi dan mengitari Bulan. Delapan bulan kemudian, Juli 1969, untuk pertama kalinya manusia menginjakkan kaki di Bulan. Penguasaan antariksa oleh manusia serasa tinggal selangkah lagi.
Impian menjelajah angkasa sama tuanya dengan mimpi-mimpi manusia lainnya. Semenjak dulu langit yang tanpa batas adalah ranah dewa-dewi dan manusia biasa yang mencoba menjelajahinya pasti akan mati. Icarus menantang kepercayaan ini, terbang mendekati langit, dan kehilangan nyawanya. Langit kehilangan keangkerannya ketika Newton dan Kepler membongkar rahasia pergerakan langit dan Somniuum, buah karya Kepler, bercerita tentang penjelajahan Bulan dengan bantuan makhluk halus, lahir. Selanjutnya literatur fiksi ilmiah tentang penjelajahan antariksa dan dunia lain mewarnai kehidupan kita. Dan kini…mimpi itu terwujud.

Pioneer 10, diluncurkan pada tahun 1972, adalah wahana tak berawak pertama yang meninggalkan tata surya kita. Sumber:Wikipedia
Lantas bagaimana? Manusia sudah mengirimkan wahana tak berawak ke seluruh penjuru tata surya. Seluruh planet dalam tata surya kecuali Planet Pluto telah diteliti melalui misi pendaratan, mengorbit, maupun hanya terbang-lintas (fly-by). Venus dan Mars telah berkali-kali dijelajahi permukaannya oleh wahana tak berawak Uni Soviet dan Amerika Serikat. Merkurius telah dipetakan melalui misi terbang-lintas Mariner 10 pada tahun 1974 dan wahana Messenger beberapa bulan lalu telah dikirimkan dan akan tiba pada Maret 2011 nanti. Wahana Galileo telah bertahun-tahun mengorbit Jupiter sebelum akhirnya “dimatikan” oleh NASA. Dan baru-baru ini wahana Cassini-Huygens telah mencapai satelit Saturnus, Titan, setelah perjalanan panjang 7 tahun. Tata surya seolah sudah terlalu kecil bagi manusia. Lantas bagaimana? Manusia mengirimkan wahana tak berawak menuju bintang terdekat? Itupun sudah. Wahana tak berawak Pioneer 10, Voyager 1 dan 2, diluncurkan 30 tahunan lalu, kini sudah berada di perbatasan tata surya kita dalam perjalanan meninggalkan tata surya.

Namun di balik semua pencapaian itu, manusia ternyata masih tertidur dalam buiannya. Pionir roket modern, Konstantin Tsiolkovsky, berujar, “Bumi adalah buaian pemikiran namun manusia tak dapat tinggal dalam buaian selamanya.” Mimpi Kubrick dan Clarke masih jauh dari kenyataan karena hingga saat ini sejauh manusia dapat pergi adalah 384.000 km, jarak dari Bumi ke Bulan. Walaupun penerbangan ulang-alik ke orbit Bumi sudah menjadi hal biasa dan Stasiun Antariksa Internasional (ISS—International Space Station) sedang dalam tahap konstruksi, kolonisasi Planet Mars dan penerbangan berawak menuju Jupiter masih jauh dari kenyataan. Pun hingga saat ini belum ada rencana untuk memprogramkan pendaratan manusia di Mars, misalnya, atau pembangunan koloni di Bulan. Tiga badan antariksa terdepan di planet ini, NASA (National Aeronautics and Space Administration—Badan Antariksa Amerika Serikat), ESA (European Space Agency—Badan Antariksa Uni Eropa), dan Rosaviacosmos—Badan Antariksa Rusia, bersama dengan Jepang dan Kanada masih sibuk membangun ISS dan NASA merencanakan penerbangan berawak menuju Mars sebelum 2010. Sejauh ini 438 manusia telah pergi ke antariksa, namun bagaimana masa depan manusia di antariksa?
Masalah paling besar yang menghalangi manusia menjelajahi antariksa sudah diketahui semenjak Jules Verne menulis Dari Bumi ke Bulan (From the Earth to the Moon) pada 1865—astronot menghabiskan sebagian besar waktunya dalam keadaan tanpa bobot. Beberapa waktu sebelum Perang Dunia II, pada tahun 1939, saat Arthur C. Clarke dan beberapa kolega membentuk Perkumpulan Antarplanet Inggris (British Interplanetary Society), mereka merancang sebuah stasiun antariksa berbentuk silinder yang berotasi pada sumbunya, sehingga gaya sentrifugal menghasilkan gaya berat kepada penghuni yang berada di bagian dalam “lantai” silinder. Stanley Kubrick menunjukkan keadaan seperti ini dalam 2001: A Space Odyssey. Desain seperti ini dibuat karena saat itu tak ada yang tahu bagaimana reaksi manusia pada keadaan tanpa bobot, karena keadaan tersebut tak dapat dihasilkan Bumi lebih lama dari beberapa detik saja. Skenario terburuk yang dibuat adalah detak jantung yang tak terkendali dan kematian yang cepat namun menyeramkan (ketakutan inilah yang membuat insinyur Uni Soviet pada masa perang dingin merancang kapsul roket yang sepenuhnya dikendalikan dari Bumi, dan yang mendorong insinyur NASA untuk mengirimkan simpanse lebih dahulu ke antariksa). Sekarang kita sudah mengetahui bahwa ketakutan itu ternyata berlebihan dan astronot yang berada dalam keadaan tanpa bobot semuanya baik-baik saja, walaupun ada banyak sekali pengaruh jangka panjang yang masih belum sepenuhnya kita mengerti. Manusia kini telah tinggal di antariksa selama lebih dari satu tahun (pemegang rekor dunia untuk tinggal paling lama di antariksa adalah Valery Polyakov, 437 hari dalam Stasiun Mir) dan beberapa astronot sudah demikian ketagihan dengan kebebasan dari gravitasi sehingga enggan untuk kembali ke Bumi.

Gravitasi buatan dapat diciptakan dengan mendesain sebuah roda yang berputar pada sumbunya. Ini akan menciptakan gaya sentrifugal yang arahnya menjauhi sumbu roda. Konsep ini sudah dirancang oleh Clarke semenjak 1939, dan kemudian divisualkan dalam film 2001: A Space Odyssey, di mana Frank Poole digambarkan sedang jogging mengelilingi roda tersebut. Sumber: Wikipedia
Dalam keadaan tanpa bobot, informasi gravitasi menghilang dari otak sehingga orientasi “atas” dan “bawah” pun menghilang. Telinga mengirimkan sinyal membingungkan ke otak dan mata mengalami ilusi, bagi beberapa orang hal ini dapat memualkan. Cairan tubuh mengalir ke dada dan kepala. Urat leher mengembang, wajah memerah. Jantung membesar sedikit dan demikian pula organ-organ lainnya. Otak merasakan cairan tubuh terlalu banyak sehingga tubuh pun membuangnya: Kalsium, elektrolit, dan plasma darah. Produksi sel darah merah berkurang sehingga astronot menderita anemia. Dengan hilangnya cairan tubuh, kaki pun mengecil. Selama menjadi Direktur Insitut Penelitian Permasalahan Biomedik Rusia dari tahun 1968 hingga 1988, Oleg Gazenko melihat kosmonot-kosmonot yang kembali dari penerbangan panjang turun dari kapsul dalam keadaan limbung, pucat, tak tahan berdiri, dan harus ditandu. “Kita adalah makhluk Bumi. Perubahan ini adalah harga yang harus dibayar untuk karcis ke luar angkasa,” ujarnya. Tidak hanya berat badan yang menurun, namun juga massa otot dan kerapatan tulang akan menurun akibat kerja dalam keadaan bobot menjadi sangat kecil. Osteoporosis mengancam karena tulang kehilangan kerapatannya sebesar 1 hingga 2 persen dalam sebulan, sebanding dengan laju kehilangan seorang perempuan pasca menopause dalam satu tahun. Oleh karena itu sebelum kita mengirimkan manusia ke antariksa untuk jangka waktu yang lama, persoalan fisiologis ini harus dijawab terlebih dahulu. Dengan teknologi roket yang ada sekarang aja, perjalanan menuju Planet Mars memakan waktu kurang lebih 260 hari. Total lamanya perjalanan antariksa adalah 522 hari ditambah waktu tinggal di Mars selama 455 hari untuk menunggu saat yang terbaik (lihat gambar di bawah).

Mars Pulang-Pergi dalam Dua Setengah Tahun: Perjalanan Bumi-Mars membutuhkan banyak bahan bakar dan waktu yang tepat. Beberapa ahli bahkan menyatakan kita membutuhkan roket pendorong yang sama sekali baru untuk mempercepat waktu perjalanan. Dengan menggunakan teknologi saat ini, jalur yang paling efisien dalam hal penggunaan bahan bakar adalah saat Bumi berada pada posisi pukul enam dan Mars pada posisi sekitar pukul empat (lihat gambar di bawah)---suatu posisi yang terjadi hanya 1 kali dalam 26 bulan. Tahap pertama perjalanan akan membutuhkan waktu 259 hari. Setelah pendaratan, astronot tinggal selama 455 hari di permukaan Mars untuk menunggu posisi terbaik. Total lamanya misi: 972 hari. Sumber: National Geographic
Masalah kedua adalah radiasi. Di luar atmosfer Bumi berkeliaran partikel bernergi tinggi yang dilontarkan matahari melalui mekanisme Pelontaran Massa Korona (Coronal Mass Ejection—CME) dan radiasi sinar kosmis yang berasal dari Galaksi Bima Sakti atau sisa supernova. Eksposur terhadap radiasi pada astronot yang berada dalam perjalanan ke Mars akan jauh lebih besar daripada astronot dalam orbit Bumi atau pada permukaan Bulan. Ion berat yang dibawa radiasi sinar kosmis dapat membombardir sel tubuh, memecah struktur DNA dan menyebabkan kanker.
Berbagai penyelidikan telah dilakukan untuk menghadapi persoalan fisiologis dan radiasi ini. Olahraga rutin terbukti mampu mengatasi beberapa persoalan fisiologis. Kosmonot Yuri Romanenko—yang melakukan olahraga secara rutin dengan menggunakan treadmill di Stasiun Mir—setelah menyelesaikan misi selama 329 hari langsung melakukan handstand dengan satu tangan di depan wartawan. Bahan semacam polietilen pun telah terbukti sanggup menyerap radiasi yang ditimbulkan oleh sinar kosmis. Polietilen telah lama digunakan dalam kapal selam nuklir untuk melindungi pelaut di dalamnya dari radiasi dari reaktor nuklir.
Lalu untuk apa seluruh hambatan ini—baik alamiah maupun teknologi—dihadapi untuk membawa manusia menjelajah antariksa? Selain eksplorasi untuk ilmu pengetahuan, ruang angkasa menjadi solusi bagi persoalan pemukiman. Dengan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, hampir 2 persen setiap tahunnya (ini berarti jumlah penduduk Bumi berlipat ganda setiap 40 tahun), maka dalam jangka waktu beberapa ratus tahun Bumi akan kehabisan tempat tinggal. Insinyur mulai memikirkan konsep tentang pemukiman antariksa sebelum kita melangkah untuk mengkolonisasi Bulan atau Mars. Konsep pemukiman antariksa yang mengorbit Bumi dengan kecepatan tertentu agar dapat menghasilkan gaya sentrifugal yang sama dengan besarnya gaya gravitasi di permukaan Bumi mungkin adalah desain yang paling masuk akal untuk direalisasikan dalam beberapa ratus tahun ke depan.
Sebagai langkah awal, perjalanan antariksa harus dibuat lebih efisien. Roket yang ada saat ini sangat tidak efisien karena hanya sanggup membawa muatan kurang dari 1 persen berat totalnya, sehingga harus dicari teknologi yang membuat ongkos perjalanan antariksa sebanding dengan penerbangan antar benua. Ongkos untuk membawa seorang manusia ke dalam orbit paling tidak hanya beberapa ratus dolar dan bukan jutaan dolar seperti sekarang (Pada 2001, milyuner Denis Tito membayar 20 juta dolar dan menjadi turis antariksa pertama). Satu cara untuk mencapai sasaran ini adalah dengan membangun “elevator antariksa” yang membawa seseorang ke orbit Bumi dengan menggunakan kabel yang digantung di atas satelit geostasioner yang diam di atas permukaan Bumi (satelit ini bergerak berlawanan dengan arah rotasi Bumi dengan kecepatan yang sama). Teknologi satelit geostasioner sendiri kini sudah umum digunakan terutama sebagai satelit relay TV seperti Satelit Palapa. Apabila ongkos pengiriman manusia ke antariksa dapat ditekan, maka frekuensi kepergian ke antariksa dapat ditingkatkan dan pembangunan pemukiman antariksa bukan tidak mungkin dapat direalisasikan.

Pada Desember 2006, NASA mengumumkan rencananya untuk membangun sebuah pangkalan permanen di salah satu kutub Bulan. Empat astronot pertama direncanakan akan mendarat pada tahun 2020, dan barulah pangkalan tersebut akan beroperasi sepenuhnya pada 2024. Rencana ini diumumkan hampir 3 tahun setelah George W. Bush mengumumkan visinya untuk menjelajahi Bulan dan Mars. Sumber: NewScientistSpace
Pembangunan koloni Bulan mungkin adalah langkah selanjutnya, terutama apabila Bulan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, beberapa tahun lalu pernah mengumumkan rencana untuk membangun koloni di Bulan sebagai batu loncatan untuk pendaratan di Mars (walaupun beberapa kalangan sains di Amerika Serikat sendiri menduga rencana ini hanya sesumbar saja karena Bush sendiri tidak memperlihatkan ketertarikan yang besar terhadap ilmu pengetahuan), dan sisi jauh Bulan (sisi yang tak pernah dilihat dari Bumi) sendiri merupakan lahan yang strategis untuk pembangunan observatorium astronomi radio karena bebas dari gangguan sinyal radio dari peralatan elektronik Bumi.


Terraforming adalah sebuah usaha untuk mengubah sebuah planet yang tadinya tak dapat dihuni manusia menjadi sebuah dunia yang mampu menyokong kehidupan. Ini adalah sesuatu yang tidak hanya membutuhkan sebuah teknologi yang levelnya sangat tinggi dan memakan waktu amat lama, namun juga sangat kontroversial. Ilustrasi ini adalah pengandaian terraforming Mars dalam empat tahapan: Dari planet merah tak berpenghuni menjadi planet kembaran Bumi. Sumber: Wikipedia
http://www.kaheel7.com/id/index.php?option=com_content&view=article&id=204:seringnya-terjadi-gempa-bumi&catid=38:alam-a-kehidupan&Itemid=57

Seringnya terjadi gempa bumi

 Diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah seringnya terjadi gempa bumi  ….

 
Diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah seringnya terjadi gempa bumi, dan inilah yang kita saksikan pada zaman sekarang ini ratusan ribu orang mati meninggal karena gempa bumi ini dan akan terus bertambah dan meningkat, dan tentu saja, pada zaman Nabi mengetahu apa
yang akan terjadi pada zaman kita saat ini, namun Nabi saw telah memberitahukan kepada kita tentang hal tersebut beliau bersabda: “ Tidak akan terjadi hari kiamat sampai diangkatnya ilmu pengetahuan dan seringnya terjadi gempa bumi” (Bukhari) Maha Suci Allah.
--------------------

CAHAYA MERAH DI WAKTU SENJA

CAHAYA MERAH DI WAKTU SENJA

Ketika sinar matahari mengenai bumi, medan magnet menahan dan memaksanya  ….


Ketika sinar matahari mengenai bumi, medan magnet menahan  dan memaksanya untuk berinteraksi dan pergi menjauh. Begitulah Allah melindungi kita dari efek buruk angin  matahari yang mematikan. Sebagai akibat dari interaksi ini terbentuklah fenomena apa yang dikenal dengan “aurora” . Para ilmuwan mengatakan, seandainya tidak ada fenomena seperti ini, seluruh makhluk yang berada di muka bumi ini akan hangus terbakar. Oleh karena itu Allah bersumpah dengan fenomena ini karena fungsinya yang sangat penting dalam kehidupan kita sementara kita tidak menyadarinya. Allah berfirman:
(فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ) [الانشقاق: 16]
“ Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja”
Al-Insyiqaq 16
Pertanyaannya adalah, bukankah ayat ini merupakan bukti bahwa Al Qur'an adalah firman Allah? Karena tidak ada seorang pun yang menyadari pentingnya fenomena ini pada masa Nabi SAW? Tetapi Allah menyebutkannya dalam kitab suci-Nya untuk membuktikan kebenaran kandungan kitab suci ini.

--------------------
http://www.kaheel7.com/id/index.php?option=com_content&view=article&id=207:ukuran-bumi-berkurang&catid=38:alam-a-kehidupan&Itemid=57

UKURAN BUMI BERKURANG

Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa bumi itu dulunya lebih besar  ….


Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa bumi itu dulunya lebih besar dari ukuran saat ini. Ukurannya terus menurun dengan berlalunya jutaan tahun. Penemuan ini disebutkan dalam al-Quran dengan jelas:
(أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا) [الرعد: 41]،
“ Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?....” Al-Ra`du 41
Pertanyaan bagi siapa saja yang meragukan kerasulan Nabi Muhammad SAW, “Siapakah yang memberitahukan kebenaran alam semesta ini?”.


--------------------


http://www.kaheel7.com/id/index.php?option=com_content&view=article&id=112:gambar-dan-bukti-ilmiah-piramida-dibangun-dari-tanah-liat&catid=36:ilmu-bumi&Itemid=55










Kebenaran ilmiah yang telah diterbitkan dalam abad kedua puluh satu telah disebutkan dalam Alquran sejak empat belas abad yang lalu ….


Kebenaran ilmiah yang telah diterbitkan dalam abad kedua puluh satu telah disebutkan dalam Alquran sejak empat belas abad yang lalu ... mari perhatikan gambar dan videonya ....

Dalam waktu lama para ilmuwan kebingungan karena mereka tidak mampu menemukan rahasia dari konstruksi dan bahan bangungan... dan dalam waktu lama pula umat manusia memandang bahwa banguan itu adalah sebuah teka-teki yang membingungkan ... dalam waktu lama para penulis menyusun tulisannya tentang bangunan tersebut yang hanya sebuah legenda dan dongeng belaka...namun akhirnya, kebenaran mulai muncul dan melalui penelitian ilmiah modern ... Ia adalah piramida.

Penelitian terbaru mengatakan bahwa piramida dibangun dari tanah liat dan panas! Dan yang sangat menakjubkan adalah bahwa Alquran telah mengungkap fakta ini dengan sangat jelas sesuai dengan ungkapan Firaun saat itu... namun sebelum ini, mari kita merenungkan apa yang para ilmuwan temukan baru-baru ini...

Dalam edisi tanggal (1 Desember 2006) Koran Amerika Times menerbitkan berita ilmiah yang mengkonfirmasi bahwa Firaun menggunakan tanah liat untuk membangun piramida! Menurut penelitian Amerika-Perancis menyebutkan bahwa batu yang digunakan untuk membuat darinya piramida, sebelumnya telah dilemparkan di bawah kayu lalu dipanaskan sehingga membentuk batu keras yang hampir normal.

Para ilmuwan mengatakan bahwa Firaun mahir dalam ilmu kimia dan mengelola tanah liat dan metode yang mereka gunakan masih menjadi rahasia dan tidak diizinkan untu diakses atasnya atau terkodifikasi pada nomor yang mereka tinggalkan. Profesor Gilles Hug, dan Michel Profesor Barsoum menegaskan bahwa Piramida yang palign besar di Giza itu terbuat dari dua jenis batu: batu alam dan batu-batu yang dibuat secara manual.

Dan dalam penelitian yang dipublikasikan oleh majalah “Journal of American Ceramic Society” menegaskan bahwa Firaun menggunakan jenis tanah slurry Firaun untuk membangun monumen yang tinggi secara umum, dan membangun piramida pada khususnya. Karena tidak mungkin bagi seseorang untuk mengangkat batu berat ribuan Kilogram, dan inilah yang membuat Firaun menggunakan batu alam untuk membangun dasar

Piramida, dan lumpur dibakar untuk diletakkan di tempat yang paling tinggi.

Setelah berhasil mencampur lumpur kapur di tungku perapian yang dipanaskan dengan uap air garam dan berhasil membuat uap air darinya sehingga membentuk campuran tanah liat, maka akan dilakukan template diatas kayu dan dituangkan dalam tempat yang disediakan di dinding piramida.

Profesor Davidovits telah mengambil batu piramida yang terbesar untuk dilakukan analisis dengan menggunakan mikroskop electron terhadap batu tersebut dan menemukan jejak reaksi cepat yang menegaskan bahwa batu terbuat dari lumpur, sedangkan ahli geologi sampai baru-baru ini, belum memiliki kemampuan untuk membedakan antara batu alam dan batu buatan dengan metode ini, tetapi hari ini mereka bisa membedakan berkat teknologi modern,

oleh karena itu professor kembali membuat batu besar dengan metode ini dalam waktu sepuluh hari.



Seorang ilmuwan Belgia Guy Demortier yang sebelumnya dalam waktu yang lama mempertanyakan keabsahab penelitian ini berkata: Setelah bertahun-tahun melakukan riset dan studi sekarang saya baru yakin bahwa piramida yang terletak di Mesir dibuat dengan menggunakan tanah liat.

Firaun dalam membangun piramida menggunakan sejumlah besar batu sampai dengan 2-2,8 juta batu, studi baru juga mengatakan bahwa beberapa arkeolog Mesir membantah bukti-bukti ilmiah baru-baru ini, dan mereka menyatakan bahwa orang Mesir kuno memiliki kemampuan mengangkat jutaan batu yang beratnya sekitar lima atau enam ribu kilogram! Itu menurut majalah Times America.

http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/europe/article656117.ece



Seorang Profesor Prancis Joseph Davidovits telah melakukan eksperimen selama dua puluh tahun lamanya dan menemukan bahwa piramida dibangun dari lumpur, terutama dibagian yang tinggi piramida di mana sulit untuk menaikkan batu alam.



Ini adalah Analisis gambar secara elektronik terhadap batu Piramida terbesar seperti yang disajikan oleh situs terkenal tentang biologi.

This colorized scanning electron microscope image shows the pyramid's "innercasing" limestone, including amorphous silica (red) that cements the limestone aggregates (black) together. Credit: Michel Barsoum, Drexel University. http://www.livescience.com



Sebuah penelitian yang luas tentang piramida Bosnia, "Piramida Matahari" dan menjelaskan bahwa batu-batunya terbuat dari tanah liat! Ini menegaskan bahwa metode ini tersebar luas di masa lalu. (Gambar dari batu piramida).



Sebuah gambar yang digunakan dalam casting batu-batu kuno piramida matahari mengalir di Bosnia, dan kebenaran ilmiah mengatakan bahwa sangat jelas bahwa metode tertentu pada pengecoran batu berasal dari tanah liat telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu dalam peradaban yang berbeda baik Rumania atau Firaun!

Keajaiban Al-Qur'an mendahului penemuan ilmiah

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan fakta bahwa bangunan piramida dan bangunan lain dari bangunan yang tinggi, dalam hal ini Allah berfirman:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta". (Al-Qashash:38)

Dalam ayat ini menunjukkan tentang teknologi konstruksi yang digunakan untuk bangunan tinggi sebuah monumen seperti firman Allah: “buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi”

dan kata bangunan secara bahasa adalah setiap bangunan tinggi.

Teknik ini didasarkan pada lumpur dan panas seperti dalam ayat:

“Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat”

Subhanallah! Ada bukti yang menunjukkan bahwa patung-patung raksasa dan tiang-tiang yang ditemukan dalam peradaban Rumania dan yang lainnya juga dibangun dari tanah liat! Dapat dikatakan: Bahwa keajaiban Al Qur'an menunjukkan bahwa cara untuk membangun bangunan-bangunan dari tanah liat dan ini yang tidak diketahui pada waktu turunnya Alquran,

Ini berarti menunjukkan bahwa ide bangunan piramida, monumen, patung dan benda-benda antik lainnya dari tanah liat, tidak datang hanya di akhir abad dua puluh, namun Al Qur'an telah menyebutkannya sebelum empat belas abad yang lalu! Namun kenapa harus ke Firaun, karena bangunan terbesar yang dibangun dari tanah liat adalah piramida!

Siapa yang memberitahukan kepada Nabi saw berita ini?

Firaun mungkin bukanlah sosok yang telah membangun piramida ]karena ia meninggal karena tenggelam, namun ia menggunakan teknik rekayasa bangunan ketika membuat sampai monumen dan kemudian dihancurkan oleh Tuhan setelah itu, dan karenanya sebagai pintu integritas ilmiah, Al-Quran adalah kitab pertama yang mengungkapkan rahasia bangunan piramida, bukan para Ilmuwan Amerika dan Perancis. Pertanyaannya adalah:

Kita tahu bahwa Nabi saw tidak pergi ke Mesir dan tidak pernah melihat piramida, bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentangnya ... dan Kisah Firaun, terjadi sebelum masa Nabi saw ribuan tahun yang lalu, dan tidak ada satupun di muka bumi ini pada waktu itu yang mengtahui tentang rahasia piramida ... dan para ilmuwan tidak yakin bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen tinggi kecuali beberapa tahun belakangan ini, maka dari itu, bagaimana Nabi saw sebelum 1400 tahun yang lalu memberitahukan bahwa Firaun menggunakan tanah liat dan panas untuk membangun monumen ...

Ayat ini sangat jelas dan kuat membuktikan bahwa nabi Muhammad saw tidaklah membawa apapun dari padanya tetapi Allah yang menciptakan Firaun dan menenggelamkannya, dan Dia pula yang menyelamatkan nabi Musa ... Dan Dia pula yang memberitahukan kepada Nabi-Nya akan hakikat ilmiah ini, dan ayat ini menjadi saksi kebenaran kenabiannay pada zaman modern ini!!

--------------------

Oleh: Abduldaem Al-Kaheel

www.kaheel7.com/id



Referensi:



1- http://www.signonsandiego.com/uniontrib/20080508/news_1c08pyramid.html

2- http://www.signonsandiego.com/uniontrib/20080508/news_1c08pyramid.html

3- http://www.davidovits.info/78/davidovits-pyramid-theory-worldwide

4- http://www.geopolymer.org/news/cutting-edge-analysis-proves-davidovits’-pyramid-theory

5- http://www.timesonline.co.uk/article/0,,13509-2480751,00.html

6- http://www.nytimes.com/2006/12/01/science/01pyramid.html?ref=science

7- http://www.welt.de/data/2006/11/30/1129891.html

8- http://www.livescience.com/history/070518_bts_barsoum_pyramids.html

9- http://www.piramidasunca.ba/en/index.php/STONE-BLOCKS-FROM-THE-BOSNIAN-PYRAMIDS-ANALIZED-RESULT-ANCIENT-CONCRETE.html

10- http://dsc.discovery.com/news/2006/12/08/pyramids_arc.html?category=archaeology&guid=20061208120000

11- http://www.newscientist.com/channel/being-human/mg19225812.900-concrete-evidence-in-gizas-pyramids.html

12- Herodotus, The Histories, Oxford University Press, 1998

13- Davidovits, J. and Morris, M, The Pyramids, Dorset Press, 1988

14- Pyramids were built with concrete rather than rocks, scientists claim, http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/europe/article656117.ece, December 1, 2006

15- Concrete evidence in Giza's pyramids, http://www.newscientist.com/channel/being-human/mg19225812.900-concrete-evidence-in-gizas-pyramids.html

16- http://dsc.discovery.com/news/2006/12/08/pyramids_arc.html?category=archaeology&guid=20061208120000

17- http://www.materials.drexel.edu/Pyramids/

18- MIT Class Explores Controversial Pyramid Theory With Scale Model, http://www.azom.com/default.asp, April 3rd,2008.

19- http://www.romanconcrete.com/index.htm

20- http://www.sciencedaily.com/releases/2006/12/061209122918.htm

21- The Enigma of the Construction of the Giza Pyramids Solved?, Scientific British Laboratory, Daresbury, SRS Synchrotron Radiation Source, 2004.

22- http://www.boston.com/news/local/articles/2008/04/22/a_new_angle_on_pyramids/?page=1

23- http://www.geopolymer.org/archaeology/pyramids/are-pyramids-made-out-of-concrete-1

24- http://www.geopolymer.org/archaeology/pyramids/pyramids-2-the-evidences

25- Barsoum, M. W., Ganguly, A. and Hug, G. Microstructural Evidence of Reconstituted Limestone Blocks in the Great Pyramids of Egypt, Journal of the American Ceramic Society 89 (12), 2006.
Para astronom mengerahkan berbagai teleskop untuk mempelajari besarnya energi yang diproduksi oleh alam semesta. Caranya? Mereka mempelajari 200 000 galaksi yang ada di alam semesta dengan menggunakan beberapa teleskop di antaranya adalah teleskop VISTA dan VST milik ESO, teleskop landas angkasa GALEX dan WISE milik NASA serta teleskop Herschel milik ESA. Penelitian ini merupakan bagian dari Galaxy And Mass Assembly (GAMA), sebuah survei galaksi yang dilakukan pada semua panjang gelombang.
Pengamatan pada 200 000 galaksi ini bertujuan untuk memetakan dan membuat pemodelan dari energi yang dihasilkan oleh alam semesta saat ini dan pada waktu yang berbeda-beda di masa lalu. Selain itu para astronom juga bisa mempelajari pembentukan dan evolusi dari berbagai tipe galaksi yang ada di alam semesta.
Galaksi yang tampak dalam berbagai panjang gelombang dalam survei GAMA. Kredit: ICRAR/GAMA & ESO
Galaksi yang tampak dalam berbagai panjang gelombang dalam survei GAMA. Kredit: ICRAR/GAMA & ESO
Hasilnya cukup mengejutkan. Energi yang dihasilkan dari lingkungan alam semesta dekat dalam representasi 200000 galaksi menunjukkan adanya penurunan dibanding 2 miliar tahun lalu. Penurunannya cukup signifikan. Energi yang dihasilkan saat ini hanya setengah dibanding dengan energi yang dihasilkan 2 miliar tahun lalu dan kondisi ini terjadi pada semua panjang gelombang dari ultra ungu sampai panjang gelombang inframerah-jauh.
Tampaknya secara perlahan, alam semesta sedang menuju kematiannya.
Seluruh energi di alam semesta terbentuk saat terjadinya Big Bang aka Dentuman Besar, saat ketika alam semesta mengembang ke semua arah. Sebagian energi yang terbentuk itu tersimpan sebagai massa, yang kemudian diubah kembali menjadi energi saat bintang melakukan pembakaran di dalam dirinya.
Sumber energi lainnya di alam semesta juga berasal dari piringan di sekeliling lubang hitam yang ada di pusat galaksi. Di sini, energi gravitasi diubah menjadi pancaran elektromagnetik di quasar dan inti galaktik aktif lainnya. Pancaran pada panjang gelombang yang lebih panjang justru datang dari awan debu raksasa yang memancarkan kembali cahaya bintang yang ada di dalam awan tersebut.
Setelah terjadinya Big Bang, sebagian besar energi meluap di seluruh alam semesta tapi ada energi tambahan yang terus menerus diproduksi oleh bintang ketika mereka melakukan pembakaran hidrogen dan helium di dalam dirinya. Energi baru yang dihasilkan bintang-bintang ada yang diserap oleh debu saat sedang melintas di dalam galaksi induknya, dan ada juga yang lepas ke ruang antar galaksi. Energi yang lepas di ruang antar galaktik akan terus melakukan perjalanan sampai ketika energi tersebut menabrak sesuatu, dalam hal ini bisa bintang lain, atau juga planet. Atau bisa juga dengan teleskop.
Alam semesta memudar atau menuju kematiannya secara perlahan merupakan fakta yang sudah diketahui sejak akhir tahun 1990-an. Tapi bukti bahwa hal itu terjadi di seluruh panjang gelombang dari ultra ungu sampai inframerah baru bisa diketahui saat ini.

Alam semesta saat ini secara perlahan sedang memasuki usia tua dan saat ini sedang berada pada “masa kejayaan bintang” aka inilah masa dengan jumlah bintang paling banyak. Masa kejayaan bintang ini merupakan hasil pembentukan bintang ~ 800 juta tahun lalu. Jadi bisa dianalogikan kalau alam semesta saat ini seperti seseorang yang sedang duduk di sofa dan menarik selimutnya untuk memasuki tidur abadinya!
Adakah seseorang di luar sana? Mungkin tidak. Sebuah model matematika yang dikembangkan Prof. Andrew Watson menunjukan jika kemungkinan untuk bisa mendapatkan kehidupan yang baru di planet mirip Bumi lainnya ternyata cukup rendah. Terutama, dengan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan oleh kehidupan untuk membentuk kondisi saat manusia bisa berevolusi, dan juga dengan memperhitungkan sisa waktu hidup Bumi.
Matahari terbit di Gliese 581c. Kredit Gambar : APOD, Karen Wehrstein.
Struktur kompleks dan makhluk cerdas di Bumi adalah yang terakhir berevolusi di Bumi, dan diyakini, prosesnya dikendalikan oleh sejumlah kecil tahap evolusi yang sangat kompleks. Dalam penelitiannya, Prof. Watson menelaah ide lanjutan dengan menganalisis kemungkinan setiap tahap kritis yang terjadi dan berelasi dengan waktu yang digunakan oleh kehidupan di Bumi. Hasilnya, dia mendapatkan model matematika lebih lanjut yang terkait dengan evolusi kehidupan cerdas.
Menurut Prof. Watson, batas evolusi agar Bumi dan planet-planet serupa Bumi bisa menopang kehidupan akan berakhir saat Matahari semakin terang. Dalam perjalanan hidupnya, model Matahari menunjukan kalau Matahari akan mengalami peningkatan kecerlangan, yang ternyata memiliki korelasi dengan model temperatur. Berdasarkan model temperatur, akibat peningkatan kecerlangan Matahari, masa depan Bumi tidak akan lama lagi dan hanya berkisar satu milyar tahun lagi. Waktu yang pendek jika dibandingkan dengan 4 milyar tahun yang dilewati sejak kehidupan pertama kali muncul di Bumi.
Biosfer Bumi saat ini sedang berada di masa tuanya, dan kondisi ini memiliki korelasi penting dalam pemahaman kita terhadap kehidupan kompleks dan kehidupan cerdas pada planet manapun.
Sebagian ilmuwan percaya, umur alam semesta yang ekstrem serta sejumlah besar bintang di dalamnya justru memberi gambaran jika Bumi itu istimewa. Karena itu, kehidupan extraterrestrial tentu merupakan kejadian umum. Di sisi lain, Watson justru percaya kalau usia alam semesta bekerja penuh keganjilan.
Sampai saat ini hanya Bumilah satu-satunya contoh planet yang memiliki kehidupan. Jika kita belajar tentang planet yang mampu mendukung kehidupan pada satu periode tertentu, dan kita telah berevolusi jauh di awal periode itu, maka walau hanya ada satu contoh, bisa diduga evolusi dari kehidupan sederhana menjadi kehidupan kompleks dan kehidupan cerdas sangat mungkin terjadi dengan pola yang mirip. Sebaliknya, saat ini kita percaya bahwa kita berevolusi di saat lanjut dari periode yang memungkinkan adanya kehidupan (habitable period), dan ini memberi pendapat bahwa evolusi kita terjadi tidak sebagaimana mestinya. Fakta dan waktu kejadiannya pun konsisten dengan kejadian yang sangat jarang terjadi.
Sepertinya Watson menggunakan Paradoks Fermi dalam mempertimbangkan ide-idenya. Paradoks Fermi merupakan argumentasi yang mempertanyakan jika kemungkinan adanya kehidupan lain itu besar, kenapa buktinya masih sangat kurang. Selain itu, tidak ada kontak dengan kolonisasi lain jika memang kemungkinannya sangat besar.
Sejumlah tahap evolusi diajukan oleh Prof. Watson dalam hal munculnya kehidupan cerdas, yakni manusia. Dia menyatakan bahwa ada 4 tahap untuk mencapai kondisi kehidupan cerdas itu, antara lain: munculnya bakteri sel tunggal, disusul sel kompleks, kemudian sel kompleks inilah yang membentuk kehidupan kompleks, dan terakhir adalah kehidupan cerdas dengan kemampuan berbahasa yang baik.
Beberapa tahap yang tidak biasa justru memisahkan kehidupan kompleks dari bentuk kehidupan sederhana, sehingga semakin jelas perbedaan di antara keduanya. Kehidupan cerdas justru berada satu langkah di depan. Model yang diajukan Watson dalam jurnal Astrobiology mengajukan kemungkinan suatu batas atas probabilitas setiap tahap evolusi kehidupan yang bisa terjadi, yaitu 10 % atau kurang. Dengan demikian, kesempatan kehidupan cerdas untuk muncul sangatlah rendah, kurang dari 0,01 % sepanjang 4 milyar tahun.
Setiap tahap dalam perkembangan kehidupan tidak saling bergantung, tapi perkembangan lanjutan hanya akan terjadi jika yang sebelumnya sudah selesai. Kehidupan itu sendiri cenderung sama dengan yang ada sepanjang sejarah Bumi dan juga konsisten dengan beberapa transisi besar yang berhasil diidentifikasi dalam evolusi kehidupan di Bumi.

Bagaimana  ilmuwan bisa memprediksi kondisi exoplanet di luar angkasa dan bisa membuat ilustrasinya? Padahal mereka belum pernah kesana, dimohon jawabannya LS, terima kasih
Haris Rakha – Jakarta Timur
Untuk bisa membuat ilustrasi benda langit, dalam hal ini exoplanet atau planet di bintang lain, tentu terlebih dahulu harus mengetahui planet seperti apa yang ditemukan.
Masalahnya, para astronom belum pernah ke planet itu. Jadi bagaimana mereka bisa mengetahui kondisi planet tersebut dan menggambarkannya?
Ilustrasi Proxima b. Kredit: M. Kornmesser/ESO
Ilustrasi Proxima b. Kredit: M. Kornmesser/ESO
Ilustrasi planet yang dilihat selama ini dibuat dari data planet yang ditemukan dan disesuaikan dengan contoh planet yang kita kenal selama ini. Contoh yang kita punya tak lain planet-planet yang ada di Tata Surya.  Dari planet di Tata Surya, kita mengetahui bahwa planet yang padat dengan komposisi batuan terbentuk di dekat Matahari, karena batuan dan logam berkondensasi pada suhu tinggi. Sedangkan planet gas raksasa dan planet es raksasa yang kerapatannya lebih renggang terbentuk jauh dari Matahari, karena senyawa hidrogen berkondensasi pada suhu yang rendah.
Informasi lainnya, planet yang terbentuk di dekat Matahari itu sangat panas. Semakin jauh dari Matahari, temperatur akan turun dan ada area yang hangat dimana air bisa tetap berwujud cair dan semakin jauh lagi, suhunya sangat dingin. Di area ini air akan berbentuk padatan es.
Planet – planet di Tata Surya jadi model utama untuk perbandingan dengan data exoplanet di bintang lain.
Masalah lainnya, jangankan berkunjung ke exoplanet di bintang lain. Sebagian besar exoplanet yang kita ketahui saat ini justru ditemukan dari metode tidak langsung. Dari 3541 planet yang ditemukan, baru 22 exoplanet ditemukan lewat pengamatan secara langsung. Itu artinya, para astronom tidak melihat keberadaan planet di bintang lain secara langsung. Mereka mengembangkan teknik tertentu untuk bisa menemukan ada planet yang mengitari bintang.

Mencari Planet dari Perilaku Bintang

Sebagai gambaran, kita melihat bintang di langit hanya berupa titik cahaya karena jaraknya yang sangat jauh. Planet, yang mengelilingi bintang itu ukurannya luar biasa kecil dibanding bintang. Jadi bagaimana kita bisa melihat planet secara langsung? Tentu tidak mudah.
Untuk planet yang mengitari bintang-bintang dekat Matahari, pengamatan langsung masih bisa dilakukan dengan teleskop yang ada di luar angkasa. Tapi, untuk planet di bintang yang sangat jauh, tentu saja sangat sulit.
Karena itulah, para astronom mencari planet dengan cara tidak langsung. Dua metode yang paling berhasil untuk menemukan planet di bintang lain adalah metode kecepatan radial dan metode transit.
Ketika pengamat mencari planet baru dengan metode kecepatan radial, yang diamati adalah goyangan bintang. Interaksi gravitasi antara planet dan bintang akan menyebabkan bintang tampak bergoyang mendekat ataupun menjauhi pengamat. Kita memang tidak bisa secara langsung melihat pergerakan bintang yang sangat kecil dan jauh itu. Tapi kita bisa mengetahui perubahan geraknya dari pergeseran pada spektrum cahaya yang diterima pengamat.
Untuk metode transit, para pengamat justru mencari perubahan pada cahaya bintang. Kalau bintang itu memiliki planet, maka saat planet melintas di depan bintang atau di antara bintang induknya dan pengamat di Bumi, maka cahaya bintang akan berkedip. Lebih tepatnya, cahaya bintang akan meredup sesaat. Peredupannya juga sangat kecil dibanding kecerlangan bintang yang sangat terang.

Informasi dari Exoplanet

Setelah exoplanet ditemukan keberadaannya, para astronom kemudian melakukan identifikasi untuk menentukan ciri-ciri setiap planet. Informasi planet ini didapat dari hasil pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Dari sinilah para astronom bisa mengetahui komposisi planet, temperatur, atmosfer maupun kemungkinan exoplanet yang ditemukan untuk mendukung kehidupan.
Dalam mencari exoplanet, bukan hanya karakteristik planet yang perlu diketahui. Karakteristik bintang juga sangat diperlukan. Karena dengan mengetahui bintang induknya kita juga bisa mengetahui seperti apa evolusi planet yang ada di bintang itu. Informasi yang bisa diperoleh tentang bintang biasanya dimulai dari penentuan jarak bintang. Setelah jarak diketahui, kita bisa menentukan massa bintang. Pada akhirnya, kita juga bisa mengetahui kelas spektrum bintang.
Dengan mengetahui kelas spektrum bintang, kita bisa memperkirakan evolusi dari planet yang ada di dekatnya. Terutama untuk evolusi planet yang berpotensi laik huni.
Meskipun sebagian besar pendeteksian exoplanet dilakukan lewat metode tidak langsung, informasi yang diperoleh bisa memberitahu pengamat tentang karakteristik planet seperti massa, ukuran, jarak planet dari bintang dan kerapatan.
Ketika melakukan pengamatan untuk mencari exoplanet baik secara langsung maupun tidak langsung, kita bisa memperoleh informasi terkat periode orbit dari planet yang ditemukan tersebut. Dari Hukum ke-3 Kepler, kita bisa mengetahui jarak rata-rata planet ke bintang. Setelah jarak diketahui, massa planet juga bisa ditentukan lewat persamaan gravitasi Newton. Untuk pengamatan dengan kecepatan radial, yang bisa diketahui adalah massa minimum sebuah planet.
Untuk mengetahui ukuran planet, para pengamat melakukan pengukuran pada peredupan cahaya bintang yang terjadi saat transit. Peredupan yang terjadi bisa memberi informasi rasio perbandingan radius planet dan radius bintang. Pada akhirnya, radius planet bisa diketahui. Dengan mengetahui radius planet, kita bisa menentukan volume dan pada akhirnya kerapatan planet bisa diketahui dari hubungan massa dan volume.
Dengan mengetahui kerapatan planet, kita bisa mengetahui komposisi planet dan informasi terkait atmosfernya.

Merangkai Informasi Untuk Ilustrasi Indah

Jadi, apa pentingnya seluruh informasi exoplanet tersebut?
Ilustrasi Corot 7b. Kredit: Luis Calçada / ESO
Ilustrasi Corot 7b. Kredit: Luis Calçada / ESO
Yang pertama, jarak planet ke bintang. 
Jarak planet ke bintang menentukan temperatur planet tersebut. Jika exoplanet berada terlalu dekat dengan bintang, maka planet akan sangat panas. Akibatnya, planet yang terlalu dekat dengan bintang tidak akan dapat mempertahankan air dalam bentuk cair apalagi berpotensi untuk kehidupan. Planet yang dekat bintang juga biasanya tidak memiliki atmosfer karena terus menerus dilucuti oleh angin bintang.
Di sisi lain, jika planet berada terlalu jauh dari bintang, temperaturnya pun sangat dingin. Pada kondisi ini, air pun membeku. Tapi, jika planet berada pada jarak menengah dimana temperatur cukup hangat, air bisa dipertahankan dalam wujud cair. Di area inilah planet yang berpotensi memiliki kehidupan bisa ditemukan.
Yang kedua, massa planet. 
Dengan mengetahui massa planet, maka bisa ditentukan apakah planet tersebut bisa mendukung keberadaan atmosfer. Planet yang massanya kecil, gravitasinya juga lemah untuk bisa mempertahankan keberadaan atmosfer. Massa planet yang besar juga menandai gaya tarik yang sangat kuat di planet. Artinya planet mampu untuk mempertahankan keberadaan atmosfernya.
Yang terakhir adalah kerapatan planet.
Dari informasi kerapatan, komposisi planet dan keberadaan atmosfer. Sebagai contoh, planet – planet besar yang tidak terlalu padat pada umumnya memiliki atmosfer dengan komposisi es dan gas. Di sisi lain, planet yang padat memiliki ukuran yang lebih kecil dengan komposisi batuan. Bahkan beberapa di antaranya justru disusun oleh grafit atau bahkan berlian.
Setelah mengetahui ciri-ciri planet, kita bisa bandingkan dengan planet yang ada di Tata Surya untuk memperoleh gambaran exoplanet yang ditemukan.
Tapi, ada yang menarik. Exoplanet yang ditemukan tidak semuanya mirip dengan yang ada di Tata Surya. Sebagai contoh, planet 51 Pegasi b. Planet ini memiliki kerapatan yang renggang, ukurannya setengah ukuran Jupiter, tapi planet ini berada dekat sekali dengan bintang. Dan planet seperti ini tidak cuma satu. Planet serupa yang kemudian diberi kategori planet Jupiter panas rupanya cukup umum ditemukan di bintang lain.
Data karakteristik bintang dan exoplanet menjadi panduan utama bagi para ilustrator untuk memperoleh gambaran mengenai exoplanet dan bintang indukyang akan dibuat ilustrasinya. Ini penting karena ilustrasi yang dihasilkan harus bisa memberi ciri khas planet yang ditemukan beserta lingkungannya.  Dari informasi inilah ilustrasi sebuah sistem exoplanet dibangun. Tapi tentunya gambarnya tidak persis sama dengan planet-planet yang ada di Tata Surya. Para ilustrator juga memberikan interpretasi sesuai data planet. Ilustrasi yang dibuat harus bisa memberikan gambaran besar seperti apa planet yang ditemukan, tanpa membuat pembaca memiliki persepsi yang salah.
Contohnya, exoplanet laik huni. Dari data yang ada, planet tersebut merupakan planet batuan berpotensi laik huni yang memiliki air sebagai ciri khasnya. Akan tetapi, ilustrasi yang dibuat harus memperlihatkan sebuah planet laik huni yang punya air tapi tidak boleh membuat masyarakat beprikir bahwa planet lain yang persis Bumi dan memiliki kehidupan sudah ditemukan. Karena memang belum ditemukan. Untuk itu harus ada faktor pembeda.
Contoh lain, planet yang diduga memiliki air tapi sepertinya sudah lenyap akibat efek rumah kaca berlebihan. Untuk itu, penggambarannya pun dibuat memiliki banyak gunung berapi dan mulai kehilangan air.
Jadi untuk bisa membuat ilustrasi exoplanet, para ilustrator tidak bekerja sendiri. Mereka juga bekerja sama dan berdiskusi dengan para astronom untuk bisa memahami planet dan bintang yang akan mereka gambar. Informasi awal inilah yang kemudian mereka gunakan untuk membangun ilustrasi exoplanet seperti yang kamu lihat saat ini. Tiap planet tentu memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Tidak ada yang persis sama. Inilah yang dibuat oleh para ilustrator dalam memperkenalkan setiap exoplanet yang ditemukan.

Rahasia alam semesta dan ruang angkasa

 Secara Ilmiah ditetapkan bahwa tidak mungkin bagi seseorang dapat keluar dari alam semesta, karena ….

1 - Diameter alam semesta
Allah berfirman menantang manusia dan jin:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
“Hai bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (Ar-Rahman:33)
Secara Ilmiah ditetapkan bahwa tidak mungkin bagi seseorang dapat keluar dari alam semesta, karena jarak yang memisahkan kita bahwa galaksi paling jauh adalah sama dengan dua puluh ribu juta tahun cahaya, dan sekalipun manusia mampu berjalan dengan kecepatan cahaya karena ia merupakan kecepatan tertinggi di alam semesta, maka tetap ia membutuhkan waktu dua puluh ribu juta tahun. Renungkanlah, apakah ada yang mampu? Fakta ilmiah ini ditetapkan Al-Qur'an sejak empat belas abad yang lalu!
 
2 - Terbelahnya bulan
Para ilmuwan dari badan antariksa Amerika NASA baru-baru ini menemukan adanya celah pada permukaan bulan, celah dengan panjang ribuan kilometer, kemudian mereka juga menemukan berbagai keretakan secara lunar, dan tidak ada yang tahu penjelasannya sedikitpun hingga sekarang tentang fenomena ini, Namun Al-Quran menunjukkan akan hal tersebut secara terang dan gamblang,Allah SWT berfirman:
Hari kiamat telah dekat dan terpecahlah bulan” [Al-Qamar: 1], dan mungkin dapat dikatakan bahwa bagian ini dan gambarnya sebelum ilmuwan barat menegaskan bahwa ini merupakan bukti sudah dekatnya hari kiamat. Wallahu a’lam”.
 
3 - jatuhnya langit
Para ilmuwan menegaskan kemungkinan jatuhnya lapisan ozon ke Bumi oleh arena bebannya yang sangat berat, namun ada hukum sangat detail sekali untuk mempertahankan lapisan tersebut, dan jika undang-undang ini dirusak dan diabaikan maka mengarah pada tarikan lapisan yang terdiri dari udara dan awan yang berat  yang mencapai miliaran ton ke permukaan bumi dan berakibat pada kematian makhluk hidup untuk selamanya. Dan nikmat ini telah diingatkan oleh Al-Qur'an dalam firman Allah:
وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Al-Hajj: 65). Subhanallah..
 
4. Ditaklukkannya Matahari
Para ilmuwan Sekiranya manusia memiliki kemampuan untuk mendapatkan manfaat dari seluruh energi yang dipancarkan oleh matahari selama satu detik saja, maka energi ini akan cukup untuk mensuplai energi seluruh dunia untuk jangka waktu seratus ribu tahun lamanya! Karena itu marilah kita renungkan berapa banyak energi yang dipancarkan oleh matahari dan berapa banyak kemajuan dari dihasilkan dari layanan gratis Allah untuk kita semua. Sungguh benar akan firman-Nya:
وَسَخَّرَ الشَّمْسَ
“Dan Dialah Allah yang telah menaklukkan matahari”. (Ar-Ra’ad:2)
Makna dari ditaklukkan secara bahasa adalah menanggung segala beban tanpa meminta upah sedikitpun, dan inilah yang dilakukan terhadap matahari, karena itu apakah kita ingat akan nikmat Allah ini?

 
5.  Gugusan-gugusan bintang
Allah berfirman:
“Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang” (Al-Furqan:61).
Kata (buruj/gugusan bintang) memperlihatkan kepada kita akan  keajaiban hakiki dalam Al-Quran akan fakta ilmiah yang dibanggakan oleh Barat dewasa ini dengan menyatakan bahwa mereka adalah orang yang pertama kali menemukan itu yaitu struktur kosmik.
Yang menakjubkan lagi adalah bahwa para ilmuwan Barat saat ini mulai membuat istilah-istilah baru seperti struktur kosmik, bangunan kosmik dan kain kosmik, karena mereka merasa menemukan bahwa galaksi yang banyak yang berjumlah ribuan juta dan mengisi alam semesta tidak terjadi secara acak, namun ia merupakan bangunan yang kokoh dan galaksi besar, yang panjangnya mencapai ratusan juta tahun cahaya! Karena kata (gugusan bintang) di dalamnya terdapat isyarat akan bangunan yang agung, kokoh dan besar bentuknya, dan inilah yang kita lihat sesungguhnya pada galaksi kosmik yang terdiri dari jutaan galaksi, dan masing-masing galaksi dari galaksi-galaksi tersebut terdiri dari miliaran bintang!! Karena itu renungkanlah akan keagungan Sang Pencipta dan Maha Kuasa ini.
--------------------

- Copyright © Unleashed Technology - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -